TEHERAN – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan udara baru sebagai respons atas tewasnya dua prajurit Amerika dalam serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) di Yordania.
Berdasarkan pernyataan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), operasi militer tersebut dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz serta sebagai balasan atas serangan terhadap personel militer AS.
Dalam keterangan resminya, CENTCOM menyebut serangan udara itu ditujukan untuk mengurangi kemampuan militer Iran sekaligus memberikan respons cepat terhadap aksi yang menewaskan anggota militer Amerika.
Sebelumnya, CENTCOM mengonfirmasi bahwa dua prajurit AS meninggal dunia, sementara satu personel lainnya dinyatakan hilang setelah pasukan Amerika dan sekutunya menghadapi serangan rudal balistik serta drone yang dikaitkan dengan Iran.
Selain korban meninggal, empat personel militer lainnya mengalami luka-luka dan telah dievakuasi ke rumah sakit di Yordania untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga kini, identitas korban maupun perkembangan pencarian terhadap personel yang hilang belum diumumkan secara resmi.
Di sisi lain, Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa mereka siap meningkatkan operasi militer apabila serangan Amerika terus berlanjut. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, penasihat militer senior bagi pemimpin tertinggi Iran.
Menurut Rezaei, jika operasi militer Amerika berlanjut selama beberapa hari ke depan, Iran akan memasuki fase serangan berskala penuh dan tidak lagi membatasi bentuk respons militernya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak akan ada wilayah yang dianggap aman dari kemampuan serangan Iran apabila konflik terus meningkat. Selain itu, Iran menuntut Amerika Serikat bertanggung jawab atas kerusakan yang disebut mengenai infrastruktur sipil, meski tuduhan tersebut dibantah oleh Washington.
Situasi ini kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Please wait while you are redirected...or Click Here if you do not want to wait.
Hingga saat ini, perkembangan situasi masih terus dipantau oleh berbagai negara karena dikhawatirkan dapat berdampak pada stabilitas keamanan regional maupun perekonomian global.
Leave a comment